Minggu, 14 November 2010

Feminisme dalam Layar Terkembang (Tokoh Tuti)


Feminis adalah orang yang menganut paham feminisme, yaitu perjuangan mengubah struktur struktur hierarki antara laki-laki dan perempuan menjadi persamaan hak, status, kesempatan, dan peran dalam masyarakat. Layar Terkembang dalam tokoh Tuti menampilkan masalah feminisme tersebut.


Berbagai masalah feminisme termuat dalam sikap perempuan baru yang disampaikan Tuti seperti terlihat dalam kutipan berikut :
Perempuan tiada boleh menyerahkan nasibnya kepada laki-laki yang merasa akan kerugian, apabila ia harus melepaskan kekuasaannya yang telah berabad-abad dipertahankannya. Kita harus membanting tulang sendiri untuk mendapat hak kita sebagai manusia. kita harus merintis jalan untuk lahirnya perempuan yang baru, yang bebas berdiri menghadapi dunia, yang berani membentangkan matanya melihat siapa jua pun. Yang percaya akan tenaga dirinya dan dalam segala soal pandai berdiri sendiri dan berpikir sendiri. sebagai manusia yang sejajar dengan laki-laki, yang tidak usah takut dan minta dikasihani. Yang tiada suka melakukan yang berlawanan dengan kata hatinya, malahan yang tidak hendak kawin apabila perkawinan itu berarti melepaskan hak-haknya sebagai manusia yang mempunyai hidup sendiri dan berupa mencari perlindungan dan meminta kasihan.”
Masalah feminisme ini juga dikatakan Tuti pada ayahnya, “tiap-tiap manusia harus menjalani  penghidupannya sendiri sesuai dengan deburan jantungnya, dan bahwa perempuan pun harus mencari bahagianya dengan jalan menghidupkan sukmanya” .
Selain masalah feminis, Tuti juga berpandangan dalam masalah kebangsaan dan kebudayaan yaitu antara lain :
bahwa pemuda harus berjuang melawan sifat pemuda yang terdapat pada bangsa kita. Di mana pemuda melihat oarang memuja kulit, orang memuja rupa, dan melupakan isi dan hakikat di situ pemuda harus memukulkan cambuknya
Dalam menuju cita-cita seseorang harus konsekuen dan teguh pendirian sampai pada hal-hal yang kecil
“bila hati seseorang telah sangat keras pada sebuah pekerjaan, tentu pekerjaan tersebut akan berhasil”
“Jiwa yang sempurna ialah jiwa yang di dunia ini mendapatkan kesempurnaan pula. Segala sifat dan perbuatan bukan maya dan manusia harus berdaya upaya mengembangkan segala kecakapannya sebab itulah jalan menuju kesempurnaan lahir dan bathin.  dari kesempurnaan hidup di dunia ini baru kita melangkah pada kehidupan yang abadi”
Sementara itu, dalam hal agama hendaknya bangsa Indonesia tidak memandang agama sebagai hal yang memalukan dan pemeluk agama seharusnya tidak menjunjung ahli agama secara membabi buta. Apabila pemahaman agama yang dimiliki oleh masyarakat kampung dan dan kaum priyayi dapat berubah menjadi demikian, pemuda yang telah banyak menggunakan akalnya dan berpendidikan lebih maju akan dapat menerimany seperti yang dikemukakan oleh Tuti, “selama kedua belah pihak, orang kampung maupun kaum terpelajar, masih menganggap agama demikian, selama itu pula agama tidak akan menarik golongan pemuda
Layar Terkembang memuat ketidakmampuan perempuan untuk beradaptasi karena sifat permpuan yang bergantung pada laki-laki, selain itu adalah mengenai masalah cinta yang dapat membuat perempuan kehilangan kepribadiannya.
Maria adalah figur perempuan yang dapat berubah kepribadiannya oleh cinta. Maria berwatak lemah, mudah bergantung pad alaki-laki hingga menghilangkan kepribadiannya. Sejak Maria berkasih-kasihan dengan Yusuf hati Maria jadi lemah, mudah menangis oleh sesuatu yang tidak berarti, dan segala pekertinya sulit untuk dimengerti. Maria selalu menuruti kata hatinya.
Tuti menganggap kelakuan Maria yang demikian merupakan hal yang bodoh dan seperti anak kecil. Otak Maria sudah hilang sehingga tidak menimbang baik dan buruk lagi. Cinta Maria yang tidak dikendaliakan akan membahayakan dirinya sendiri. Oleh cinta yang berlebihan dan tidak tahu batas, perempuan menjadi permainan laki-laki. Laki-laki melihat bahwa perempuan sangat bergantung padanya. Kesempatan ini dipakai untuk memperhambakannya. Cinta demikian berarti merendahkan diri perempuan kepada laki-laki.
Pandangan Tuti dalam cerita yang menimbulkan konflik yaitu,
1.     Tuti mengerjakan sesuatu apabila pekerjaan itu sesuai dengan akalnya
2.    Tuti menyukai forum-forum rapat untuk membicarakan peran perempuan dalam kemajuan bangsa.
3.    Tuti menganngap Maria terlalu menurutkan perasaan. Bagi Tuti cinta yang tiada dihambat akan mengaramkan diri sendiri.
4.    Tuti melihat segaka sesuatu secara objektif sehingga sesuatu dinilai baik harus dilihat pula kekurangannya.
5.    Tuti tidak setuju jika agama dikerjakan apabila tidak ada lagi yang diharapkan dalam hidup
6.    Tuti berpendapat bahwa sesuatu yang baik hanya mungkin baik karena pencuripun berfaedah untuk mmebuat manusia tidak lengah.
7.    Tuti berpendapat jika segalanya maya akan habis segala hidup di dunia ini.
8.    Tuti mengartikan bahagia sebagai dapat menurut desakan hati dan mengembangkan kecakapan serta menyerahkan kepada yang terbesar dan termulia dalam hidup.
9.    Tuti menganggap tindakan Saleh meningglkan kantor sebagai tindakan yang benar karena pekerjaan membangun masyarakat pedesaan lebih bermanfaat.
10.  Tuti menginginkan perempuan berperan di segala bidang.
11.  Tuti mencita-citakan perempuan yang tidak terkukung dalam rumah, perempuan yang menganggap perkawinan bukan semata-mata tujuan hidup, perempuan dapat mendapat kepuasan dalam berbagai jenis pekerjaan.
12.  Tuti berpendapat bahwa daripada menjadi permainan laki-laki lebih baik tidak bersuami seumur hidup.


Tuti adalah orang yang teguh pendirian dan tidak mau menjadi perempuan yang bergantung pada laki-laki ataupun orang lain, sosok tokoh perintis emansipasi, pengejawantahan konsep dan cita-cita Takdir terhadap perempuan Indonesia, yaitu sebagai perempuan yang maju, yang sadar akan hak dan kewajibannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar